Konsumtif adalah keinginan untuk mengkonsumsi barang-barang yang
sebenarnya kurang diperlukan secara berlebihan untuk mencapai kepuasan
yang maksimal. Konsumen memanfaatkan nilai uang lebih besar dari nilai
produksinya untuk barang dan jasa yang bukan menjadi kebutuhan pokok.
Budaya konsumtivisme menimbulkan shopilimia.Dalam psikologi ini dikenal sebagai compulsive buying disorder
(penyakit kecanduan belanja). Penderitanya tidak menyadari dirinya
terjebak dalam kubangan metamorfosa antara keinginan dan kebutuhan. Ini
bisa menyerang siapa saja, perempuan atau laki-laki.
Susahnya, kita terjebak dalam kehidupan konsumeristik yang dibawa pasar kapitalisme. Jadi ritual itu dipaket begitu rupa oleh pasar kapitalisme menjadi lebih konsumtif dan menjadi bagian dari budaya populer. Kehidupan kaum muslimin saat ini berada di tengah arus kapitalisme.
Susahnya, kita terjebak dalam kehidupan konsumeristik yang dibawa pasar kapitalisme. Jadi ritual itu dipaket begitu rupa oleh pasar kapitalisme menjadi lebih konsumtif dan menjadi bagian dari budaya populer. Kehidupan kaum muslimin saat ini berada di tengah arus kapitalisme.
b. Remaja dan Gaya Hidup Konsumtif
Remaja yang bergaya hidup konsumtif rela mengeluarkan duitnya hanya untuk jaga gengsi dalam pergaulan. Baik itu masalah makanan dan minuman, pakaian, juga masalah hiburan (Food, Fashion, and Fun). Hal ini merupakan perwujudan dari gharizah al baqa (naluri mempertahankan diri). Setiap orang ingin dianggap eksis dalam lingkungan pergaulannya.
Bagi produsen, kelompok usia remaja adalah salah satu pasar yang potensial. Alasannya antara lain karena pola konsumsi seseorang terbentuk pada usia remaja. Di samping itu, remaja biasanya mudah terbujuk rayuan iklan, suka ikut-ikutan teman, tidak realistis, dan cenderung boros dalam menggunakan uangnya. Sifat-sifat remaja inilah yang dimanfaatkan oleh sebagian produsen untuk memasuki pasar remaja.
Saat remaja sedang gandrung dengan gaya hidup mewah, para pengusaha yang tak bertanggung jawab malah memberikan saluran untuk menampung gelegak nafsu konsumtif remaja. Produk-produk makanan, minuman, pakaian, sampai hiburan dikemas begitu rupa supaya remaja betah dan merasa nyaman dengan gaya hidup konsumtif yang selalu identik dengan kemewahan tersebut.
c. Diantara Dampak Perilaku Konsumtif
Remaja yang bergaya hidup konsumtif rela mengeluarkan duitnya hanya untuk jaga gengsi dalam pergaulan. Baik itu masalah makanan dan minuman, pakaian, juga masalah hiburan (Food, Fashion, and Fun). Hal ini merupakan perwujudan dari gharizah al baqa (naluri mempertahankan diri). Setiap orang ingin dianggap eksis dalam lingkungan pergaulannya.
Bagi produsen, kelompok usia remaja adalah salah satu pasar yang potensial. Alasannya antara lain karena pola konsumsi seseorang terbentuk pada usia remaja. Di samping itu, remaja biasanya mudah terbujuk rayuan iklan, suka ikut-ikutan teman, tidak realistis, dan cenderung boros dalam menggunakan uangnya. Sifat-sifat remaja inilah yang dimanfaatkan oleh sebagian produsen untuk memasuki pasar remaja.
Saat remaja sedang gandrung dengan gaya hidup mewah, para pengusaha yang tak bertanggung jawab malah memberikan saluran untuk menampung gelegak nafsu konsumtif remaja. Produk-produk makanan, minuman, pakaian, sampai hiburan dikemas begitu rupa supaya remaja betah dan merasa nyaman dengan gaya hidup konsumtif yang selalu identik dengan kemewahan tersebut.
c. Diantara Dampak Perilaku Konsumtif
Gaya hidup konsumtif lebih mementingkan prestise, sehingga para pecandu
gaya hidup konsumtif yang sudah parah tidak lagi peduli dengan halal
atau haram dari produk yang dikonsumsinya. Akhirnya gaya hidup mewah dan
konsumtif membuat seorang muslim harus bertolak belakang dengan aturan
Allah SWT.
Perilaku konsumtif ini dapat terus mengakar di dalam
gaya hidup sekelompok remaja. Dalam perkembangannya, mereka akan
menjadi orang-orang dewasa dengan gaya hidup konsumtif. Gaya hidup
konsumtif ini harus didukung oleh kekuatan finansial yang memadai.
Masalah lebih besar terjadi apabila pencapaian tingkat finansial itu
dilakukan dengan segala macam cara yang tidak halal. Mulai dari pola
bekerja yang berlebihan sampai menggunakan cara instan seperti korupsi.
Pada akhirnya perilaku konsumtif bukan saja memiliki dampak ekonomi, tapi juga dampak psikologis, sosial bahkan akhlak. Prioritas infaq berubah, sehingga banyak diantara kita yang berani mengeluarkan uang untuk membeli produk bermerek yang mahal harganya, karena kita sekaligus beli prestis. Tapi mereka merasa berat untuk menyumbang kegiatan ke-Islaman dan kikir jika untuk mendanai proyek-proyek amal. Selanjutnya dampak dari konsumtif adalah bahaya bercokolnya dalam hati manusia sifat hedonistik dan individualistik.
Pada akhirnya perilaku konsumtif bukan saja memiliki dampak ekonomi, tapi juga dampak psikologis, sosial bahkan akhlak. Prioritas infaq berubah, sehingga banyak diantara kita yang berani mengeluarkan uang untuk membeli produk bermerek yang mahal harganya, karena kita sekaligus beli prestis. Tapi mereka merasa berat untuk menyumbang kegiatan ke-Islaman dan kikir jika untuk mendanai proyek-proyek amal. Selanjutnya dampak dari konsumtif adalah bahaya bercokolnya dalam hati manusia sifat hedonistik dan individualistik.
d. Mengindari Konsumerisme
Kaum muslimin memiliki gaya hidup yang unik yang sangat berbeda
dengan peradaban manapun. Gaya hidup ini akan menyelamatkan manusia dari
kerusakan umat manusia. Kebahagiaan kaum muslimin diukur dari keridhaan
Allah SWT. Kita bisa meneladaninya dari kehidupan rasul, sahabat, dan
para pengikutnya.
Islam mengajarkan pola hidup sederhana alias tidak bermegah-megahan.
Alangkah lebih baiknya bila kita mengeluarkan uang untuk barang-barang
yang lebih bermanfaat atau produk halal yang lebih murah harganya.
Kelebihannya bisa kita sumbangkan untuk pendidikan dan dakwah, masjid
atau fakir miskin.
Islam juga mengajarkan kepada umat nya untuk banyak berinfak dan
bersedekah yang dengan mereka akan menuai keberkahan, kedamaian, dan
kesejahteraan.
Islam juga mengarahkan setiap keluarga membuat perencanaan keuangan
secara baik, dengan melakukan skala prioritas dalam belanja, seperti
pangan, sandang, papan, listrik/air, pendidikan, silaturrahmi dan
shodaqoh.
Islam sangat membenci gaya hidup yang boros dan tidak bermanfaat dan
juga melarang umatnya berlaku mubadzir dan bermegah-megahan. Tetapi
pada sisi lain Islam mengajarkan untuk tidak kikir dalam belanja untuk
kemaslahatan umum dan infaq fi sabilillah.
Bagi para remaja hendaknya mereka benar-benar nmemahami ajaran Islam
terutama keutamaan infaq fi sabilillah, larangan dalam
bermegah-megahan, boros, ataupun kikir dalam kerja-kerja kebaikan dan
kemaslahatan umum.
Jangan sampai mereka masuk dalam lingkaran gaya hidup konsumtif yang semua dan menipu serta menjerumuskan mereka kepada kefakiran dunia dan akhirat. Naudzubillah



