Rabu, 29 April 2015

Remaja Kita dan Gaya Hidup Konsumtif




a. Pengertian Konsumtivisme


    Konsumtif adalah keinginan untuk mengkonsumsi barang-barang yang sebenarnya kurang diperlukan secara berlebihan untuk mencapai kepuasan yang maksimal.  Konsumen memanfaatkan nilai uang lebih besar dari nilai produksinya untuk barang dan jasa yang bukan menjadi kebutuhan pokok.

    Budaya konsumtivisme menimbulkan shopilimia.Dalam psikologi ini dikenal sebagai compulsive buying disorder (penyakit kecanduan belanja). Penderitanya tidak menyadari dirinya terjebak dalam kubangan metamorfosa antara keinginan dan kebutuhan. Ini bisa menyerang siapa saja, perempuan atau laki-laki.

     Susahnya, kita terjebak dalam kehidupan konsumeristik yang dibawa pasar kapitalisme. Jadi ritual itu dipaket begitu rupa oleh pasar kapitalisme menjadi lebih konsumtif dan menjadi bagian dari budaya populer. Kehidupan kaum muslimin saat ini berada di tengah arus kapitalisme.


b.  Remaja dan Gaya Hidup Konsumtif
     Remaja yang bergaya hidup konsumtif rela mengeluarkan duitnya hanya untuk jaga gengsi dalam pergaulan. Baik itu masalah makanan dan minuman, pakaian, juga masalah hiburan (Food, Fashion, and Fun). Hal ini merupakan perwujudan dari gharizah al baqa (naluri mempertahankan diri). Setiap orang ingin dianggap eksis dalam lingkungan pergaulannya.

     Bagi produsen, kelompok usia remaja adalah salah satu pasar yang potensial. Alasannya antara lain karena pola konsumsi seseorang terbentuk pada usia remaja. Di samping itu, remaja biasanya mudah terbujuk rayuan iklan, suka ikut-ikutan teman, tidak realistis, dan cenderung boros dalam menggunakan uangnya. Sifat-sifat remaja inilah yang dimanfaatkan oleh sebagian produsen untuk memasuki pasar remaja.

     Saat remaja sedang gandrung dengan gaya hidup mewah, para pengusaha yang tak bertanggung jawab malah memberikan saluran untuk menampung gelegak nafsu konsumtif remaja. Produk-produk makanan, minuman, pakaian, sampai hiburan dikemas begitu rupa supaya remaja betah dan merasa nyaman dengan gaya hidup konsumtif yang selalu identik dengan kemewahan tersebut.

c. Diantara Dampak Perilaku Konsumtif 
     Gaya hidup konsumtif lebih mementingkan prestise, sehingga para pecandu gaya hidup konsumtif yang sudah parah tidak lagi peduli dengan halal atau haram dari produk yang dikonsumsinya. Akhirnya gaya hidup mewah dan konsumtif membuat seorang muslim harus bertolak belakang dengan aturan Allah SWT.

    Perilaku konsumtif ini dapat terus mengakar di dalam gaya hidup sekelompok remaja. Dalam perkembangannya, mereka akan menjadi orang-orang dewasa dengan gaya hidup konsumtif. Gaya hidup konsumtif ini harus didukung oleh kekuatan finansial yang memadai.  Masalah lebih besar terjadi apabila pencapaian tingkat finansial itu dilakukan dengan segala macam cara yang tidak halal. Mulai dari pola bekerja yang berlebihan sampai menggunakan cara instan seperti korupsi.

     Pada akhirnya perilaku konsumtif bukan saja memiliki dampak ekonomi, tapi juga dampak psikologis, sosial bahkan akhlak. Prioritas infaq berubah, sehingga banyak diantara kita yang berani mengeluarkan uang untuk membeli produk bermerek yang mahal harganya, karena kita sekaligus beli prestis. Tapi mereka merasa berat untuk menyumbang kegiatan ke-Islaman dan kikir jika untuk mendanai proyek-proyek amal. Selanjutnya dampak dari konsumtif adalah bahaya bercokolnya dalam hati manusia sifat hedonistik dan individualistik.

d. Mengindari Konsumerisme 
    Kaum muslimin memiliki gaya hidup yang unik yang sangat berbeda dengan peradaban manapun. Gaya hidup ini akan menyelamatkan manusia dari kerusakan umat manusia. Kebahagiaan kaum muslimin diukur dari keridhaan Allah SWT. Kita bisa meneladaninya dari kehidupan rasul, sahabat, dan para pengikutnya.
Islam  mengajarkan pola hidup sederhana alias tidak bermegah-megahan. Alangkah lebih baiknya bila kita mengeluarkan uang untuk barang-barang yang lebih bermanfaat atau produk halal yang lebih murah harganya. 

    Kelebihannya bisa kita sumbangkan untuk pendidikan dan dakwah, masjid atau fakir miskin.
Islam juga mengajarkan kepada umat nya untuk banyak berinfak dan bersedekah yang dengan mereka akan menuai keberkahan, kedamaian, dan kesejahteraan.
Islam juga mengarahkan setiap keluarga membuat perencanaan keuangan  secara baik, dengan melakukan skala prioritas dalam belanja, seperti pangan, sandang, papan, listrik/air, pendidikan, silaturrahmi dan shodaqoh.

    Islam sangat membenci gaya hidup yang boros dan tidak bermanfaat  dan juga melarang umatnya berlaku mubadzir dan bermegah-megahan. Tetapi pada sisi lain Islam mengajarkan untuk tidak kikir dalam belanja untuk kemaslahatan umum dan infaq fi sabilillah.
Bagi para remaja hendaknya mereka benar-benar  nmemahami ajaran Islam terutama keutamaan infaq fi sabilillah, larangan dalam bermegah-megahan, boros, ataupun kikir dalam kerja-kerja kebaikan dan kemaslahatan umum.

     Jangan sampai mereka masuk dalam lingkaran gaya hidup konsumtif yang semua dan menipu serta menjerumuskan mereka kepada kefakiran dunia dan akhirat. Naudzubillah


Mau Jadi Apa Setelah Lulus Kuliah? Pertanyaan semacam ini ditujukan kepada mahasiswa semester akhir, yang sebentar lagi akan keluar kampus dengan label gelar akademik dibelakang namanya. Topik Mau Jadi Apa Setelah Lulus Kuliah?  Pertanyaan Mau Jadi Apa Setelah Lulus Kuliah? juga sangat menarik bagi saya, dan saya ingin memberi jawaban atas pertanyaan tersebut dengan perspektif yang berbeda dengan topik sejenis.

Mau Jadi Apa Setelah Lulus Kuliah? Apakah mau jadi pengusaha? Apakah mau jadi pekerja profesional sesuai gelar akademik? Atau bekerja dimana saja yang penting gajinya besar?
Ketika lulus kuliah, sebenarnya si mahasiswa dihadapkan pada ujian yang sebenarnya. Bukan ujian tengah atau akhir semester, atau sidang skripsi yang bisa dijawab dengan beberapa jawaban saja. Ketika lulus kuliah, si mahasiswa harus cepat mengambil keputusan, bekerja, bisnis, atau nganggur. Tiga keputusan tersebut akan menentukan nilai akhir dari 4 tahun menimba ilmu di bangku kuliah.
Jika keputusanya memilih bekerja, maka pertanyaanya dimana dia akan bekerja, dan apa pekerjaanya? Idelanya tentu, bekerja di perusahaan besar dengan jabatan tertentu sesuai gelar akademiknya. Tapi, pertanyaan berikutnya siapkah dengan persaingan di bursa kerja? Di bursa kerja perusahaan besar akan ada antrian panjang"fresh graduate" dan expert. Jika sainganya cuma "fresh graduate" cuma sedikit masalah, anggap saja UTS atau UAS. Tapi jiak sainganya expert? Ujung-ujungany si mahasiswa akan memilih pekerjaan apa saja yang penting "bekerja" alias tidak nganggur. Syukur-syukur gajinya gede.
Jika keputusanya berbisnis alias menjadi pengusaha, maka pertanyaanya siapkah dengan modal? Siapkah dengan strategi mendapatkan modal dan peluang pasar yang mungkin tidak didapatkanya di kampus? Syukur-syukur si mahasiswa adalah anak orang kaya, jadi tidak ada masalah ketika memilih jadi pengusaha, karena kucuran modal siap dari orangtuanya.

Menjadi pekerja atau pebisnis, dua pilihan yang harus di lakukan. Dan tidak bisa memilih satu diantara keduanya, maka kemungkinan pilihan ketiga tak terelakan, yaitu menganggur. Jika pilihan ketiga yang terpaksa di pilih, maka itu sama dengan kiamat akademis (leb@y). Maksudnya, percuma saja kuliah menghambiskan banyak biaya dan waktu selama kurang lebih empat tahun kalau ujung-ujungnya nganggur. 
Lalu, apa yang harus di lakukan agar tidak mendapati pilihan ketiga?
Kuncinya siap-siap payung sebelum hujan. Artinya, menyiapkan segala sesuatunya sebelum lulus kuliah. Bukan cuma fokus pada mata kuliah untuk mendapatkan nilai A, dan IP cumlaude. Percuma saja nilai A dan IP istimewa jika ujun-ujungnya tragis. Nilai A dan IP hanya akan membawa si mahasiswa menjadi pesuruh profesional, yang disuruh mengerjakan pekerjaan sesuai spesialis akademiknya, di bayar mahal dan sudah.  Tapi, buatlah strategi agar setelah lulus tidak menjadi pekerja sekalipun labelnya profesional dan bergaji tinggi.
Mulailah merintis usaha sejak semester 6, usaha apa saja, syukur-syukur sesuai bidang akademik yang dipelajari. Modalnya? Modal bisa di dapat dari freelance, ada banyak pekerjaan paruh waktu buat mahasiswa, jika kesulitan cari di internet. Atau dengan menyisihkan sisa uang kuliah untuk membeli mesin produksi atau alat-alat yang dibutuhkan untuk usaha anda nantinya, satu persatu beli alat tersebut. Sesudahnya mulai membidik tempat, jika tidak ada, mulailah dari rumah kostan anda. Mulailah membangun pasar lewat mulut teman baik anda, lewat tulisan anda di blog, lewat kicauan di tweeter, atau posting facebook dan seterusnya. Ketika memasuki semester 7, anda sudah mempunyai satu usaha kecil yang sudah berjalan dan tinggal mengoptimalkanya, kelola dengan serius dan perluas pasar dan link, di semester 8 usaha kecil anda sudah jadi dan termenejerial dengan baik. Dan setelah lulus kuliah, anda sudah tinggal mengisi kantor baru, dan siap merekrut karyawan.
Mudah bukan? Sepertinya mudah, jika anda mau berusaha dengan serius. Carilah jenis usaha yang sesuai dan bisa anda lakukan, cari referensinya di internet. Tapi akan terasa sulit, jika anda tidak mau bekerja keras dan menyerah ketika gagal. Selamat mencoba!